Senin, 09 Januari 2012

RUMAH TATA RANCANG KONSTRUKSI & DESAIN RUMAH TATA CARA RANCANG BANGUN KONSTRUKSI RUMAH SEHAT LAHIR BATIN Sebuah hunian atau bangunan rumah sebagai tempat tinggal yang baik secara teknis, juga dilihat sedikit dari sudut pandang Adat Tata Cara Jawa dan Adat Tata Cara Cina (Fengsui), Dari sudut teknis disini sebaiknya harus memenuhi standart yang dipersyaratkan, minimal ada dua antara lain satu dari segi teknis dapat dipertanggung jawabkan, dua dari segi kesehatan yaitu sirkulasi udara dan sistim sanitasi sebagai pembuangan limbah akhir (cair dan sampah). Hunian rumah sebagai tempat tinggal ada beberapa syarat yang mesti diperhatikan antara lain sebagai berikut ; 1. Aman ; a. Aman dalam artian memenuhi standart minimal scara teknis konstrusi rumah yang dipersyaratkan. b. Lokasi (lahan) tanah dan letak dimana tempat suatu bangunan rumah akan didirikan contoh mis, tempat tersebut dekat dengan pabrik yang banyak mengeluarkan limbah baik udara, limbah cair yang tentu saja membahayakan kesehatan manusia (penghuninya) sudah banyak hal-hal yang terjadi, dan masih banyak lagi contoh lainnya. 2. Nyaman; Nyaman disini dalam artian bagi penghuninya akan merasa nyaman, tenang, aman dari gangguan lahir maupun batin, gangguan lahir mis; letaknya bersebelahan dengan pasar kenapa pasar? Dikarenakan tempat konsentrasinya berbagai macam manusia, menurut agama islam pasar adalah tempat yang strategis bagi golongan syetan untuk menjalankan misi licik dan jahatnya agar yang berkunjung terjerumus dalam tipu muslihat jual/ beli, disamping kurang tenang juga ada hal-hal lain. Gangguan batin mis; tata letak bangunan diluar maupun didalamnya yang kurang pas salah satunya letak kamar mandi berhadapan dengan kamar makan dan juga bila menggunakan perhitungan adat Jawa dan feng sui. 3. Sehat ; Sehat dalam artian secara teknis sistim sirkulasi udara dan sanitasi pembuangan air limbah, sampah terpenuhi. Demikian lebih lanjut bisa dibaca dan dilihat beragam rumah dengan sistim dan syaratnya, lebih lanjut sedikit artikel ini diharapkan dapat melengkapi beragam sistim perumahan anda dan seterusnya semoga dapat bermanfaat bagi anda, saudara semua, Amin TATA ADAT DAN KONSTRUKSI RUMAH JAWA Tata Bangunan rumah tradisional Adat Jawa yang memiliki nilai-nilai luhur, kerapkali dilupakan, namun, bila memahami makna yang terkandung di dalam Tata bangunan rumah tradisional Jawa, kita akan menyadari betapa agung ciptaan nenek moyang kita itu wujud fisiknya benar-benar menyatu dengan alam sekitarnya. Bentuk rumah Jawa yang terdiri dari atap, tiang,dinding dan umpak atau batur, tak ubahnya tubuh manusia yang terdiri dari kepala, badan dan kaki. Di daerah Jawa khususnya Jawa Tengah bagian Selatan, aspek non-fisik seperti arah bangunan menjadi factor yang sangat penting, bangunan rumah menghadap arah selatan mengandung makna tersendiri. Selain atas dasar kepercayaan terhadap Ratu Pantai Selatan (Nyi Roro Kidul), rumah tersebut cukup baik bila dilihat dari sudut arsitektur karenanya banyak rumah tradisional yang menghadap arah selatan, dengan tujuan untuk memberikan penghormatan. Sementara itu, dibeberapa daerah lain, gunung dijadikan lambang alam atas dan laut sebagai symbol alam bawah. Begitu pula arah matahari terbit dan terbenam arah utara dan selatan, mengandung makna tersendiri. Hal itu menunjukkan arsitektur Jawa lebih menekankan pada proses terbentuknya yang bersendikan ritual, agama atau kepercayaan. meskipun demikian, arsitektur Jawa mampu menjawab tantangan zaman selama berabad-abad lamanya. Arsitektur Jawa sangat dikenal, tak hanya di daerahnya sendiri, melainkan mampu menembus mancanegara, sebagaimanan dimuat dalam Architectural Record, Agustus 1985. Gedung American Bandstan di Ohio, AS, mengambil contoh dari arsitektur Jawa. karena itu, sudah sepatutnya jika masyarakat Jawa khususnya dan bangsa Indonesia umumnya, harus bangga dengan kenyataan tersebut. Dalam era pembangunan sekarang, rumah gaya arsitektur kontemporer atau disebut modern lebih digandrungi ketimbang rumah bergaya tradisional. Mungkin karena rumah modern di berbagai kota dianggap lebih praktis. Sedangkan rumah tradisional dianggap sudah tak sesuai lagi dengan zaman yang menuntut kerja cepat. Bagaimana sebenarnya proses pembangunan rumah Jawa dan gaya arsitekturnya, kami mencoba mengangkat, dan meninformasikan juga soal bangunan rumah mewah di kawasan eksklusif yang menerapkan konsep budaya Jawa. dan rumah hunian yang aman nyaman sebagai salah satu factor utama. RANCANG BANGUN RUMAH DENGAN KONSEP BUDAYA JAWA Dalam memilih tempat tinggal atau rumah, masyarakat Jawa selalu berupaya untuk menselaraskan dengan tata adat dan budaya jawa dengan tata lingkunganya dalam membangun dan menempati sebuah rumah masih dipegang teguh, lantaran cara mereka berpikir dan bertindak didasarkan pada konsep holistik. Yakni, konsep yang dilihat dari beberapa sudut. Masyarakat Jawa menyadari manusia dilahirkan ke dunia ini tidak sendirian, melainkan bersama makhuk-makhluk lain, yaitu tumbuh-tumbuhan, binatang dan makhluk halus. Juga mempunyai saudara, kakek-nenek yang masih hidup atau meninggal harus dihormati. Sementara itu, bumi yang ditempati ini hanyalah bagian kecil saja dari bagian tata surya yang ada. Tapi yang paling penting dalam konsep holistic : semuanya diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Menurut paranormal Indonesia Permadi SH, orang jawa dalam mengarungi kehidupannya mesti bekerja sama dan saling samat-sinamat antara manusia dengan manusia, manusia dengan tumbuh-tumbuhan, manusia dengan binatang dan manusia dengan makhuk halus. Disamping itu, manusia dengan baunya, airnya, dengan apinya dan unsur-unsurnya. “Semua itu disadari sepenuhnya bahwa kehidupan yang serasi dan seimbang adalah atas kehendak Tuhan untuk kebaikan,” katanya. Dengan demikian, dalam membangun rumah harus ada interaksi antara yang akan tinggal dengan lokasi yang akan ditempati untuk itu alam disekitarnya yang kasat mata menjadi pertimbangan utama. “Manunggaling kawula lan Gusti lantas diejawantahkan dalam bentuk persenyawaan yang tuntas antara arsitektur, alam, manusia, dan Tuhannya,”kata Prof Eko Budihardjo, Guru Besar Jurusan Arsitektur Undip. Jadi, masyarakat Jawa percaya tanah yang akan dibangun rumah telah dihuni makhluk halus. Karenanya, harus ada negoisasi atau permintaan ijin dari yang mbaurekso. “Wong rakyat yang tergusur saja harus diberi ganti rugi dan disediakan tempat, tentunya perlakuan yang sama juga harus diberikan pada makhluk lain yang tak tampak,”kata Permadi. Caranya, dengan melakukan upacara atau selamatan menanam kepala kerbau. PEMILIHAN LAHAN (TANAH) Selamatan membangun rumah atau ngedekake omah dimulai dari sejak meratakan tanah sampai dengan memasang atap bertujuan agar tidak diganggu oleh yang mbaurekso itu. Karena bagi orang Jawa, fungsi tanah yang sangat bagus tak dapat dipisahkan dari kehidupannya. sehingga dalam memilih tanah untuk ditempati mesti hati-hati, tidak asal comot. Menurut R. Ismunandar K, dalam bukunya “Joglo, Arsitektur Rumah Tradisional Jawa”, tanah yang baik ada 14 macam. Yakni, Manikmulya (tanah miring ke timur), Indrapasta (miring ke utara), Sangsangbuwana (tanah dikelilingi gunung atau perbukitan), Bumi Langupula (tanah bekas kuburan), Darmalungit (tanah miring ke timur), Sri Nugraha (tanah yang bagian barat tinggi, bagian timur datar), Wisnumanitis (tanah yang bagian utara naik turun), dan Endragana (tanah datar yang bagian tengah dan sekitarnya lebih tinggi). Lalu, Srimangepel (tanah yang terbentang di tengah-tengah lembah dan banyak sumber airnya), Arjuna (tanah miring ke kanan dan bagian utara atau selatan tertutup bukit), Tigawarna (tanah dikelilingi gunung yang menjorok ke tanah), Danarasa (tanah bagian baratnya tinggi dan utara rendah), Sunilayu (tanah dikelilingi lembah), dan Lamurwangke (tanah diapit gunung atau bukit). Sedangkan tanah yang tidak cocok untuk membangun perumahan, jumlahnya ada 9 macam. Yakni, Sri Sadana (tanah miring ke barat), Gelagah (tanah miring ke selatan), Sekarsinom (tanah miring ke selatan dan langsung berhadapan dengan rawa), Kalawis (tanah sebeah timur agak tinggi, tapi sebelahnya rendah), Siwahboja (tanah naik turun menuju ke selatan), Bramapendem (tanah yang memancarkan merah kekuning-kuningan), Sigarpenjalin (tanah di sekelilingnya mengandung air), Asungelak (tanah di bagian barat gunung) dan Singamet (tanah yang bagian tengahnya terdapat air atau sumber air). Upacara mendirikan rumah itu, menurut Thomas Wijaya Bratawidjaja, dalam bukunya “Upacara Tradisional Masyarakat Jawa”, dilakukan di tempat bangunan rumah akan didirikan. Tujuannya, untuk mengusir roh-roh jahat. Dalam upacara yang dipimpin oleh Pak Kaum, seperangkat alat-alat untuk keperluan tersebut harus dipersiapkan sebelumnya. Alat-alat tersebut adalah padi bunting (pari meteng) satu ikat, degan (kelapa muda) 8 butir, pisang ayu satu tandan berupa pisang raja, perlengkapan makan sirih (nginang) berupa gambir, pinang, tembakau, sekapur sirih dan ditambah cermin kecil. Peralatan lain yang diperlukan adalah kain bango tulak (kain yang ujungnya berwarna biru atau hitam), tukon pasar atau jajan pasar dan 2 tampah (nyiru), beras dan telor di dalam empuk (periuk kecil dari tanah liat), urip-urip (ayam jantan), berbagai macam jenang (jenang abang, jenang bero satu tampah), sega golong (nasi yang bulat-bulat), nasi gurih (nasi campur santan), kembang setaman (bunga beraneka macam), dan tumpeng (nasi berbentuk piramida). PERHITUNGAN MEMBANGUN RUMAH Namun, untuk membangun rumah harus dicarikan hari baik, yaitu hari yang sesuai dengan nilai hari dan nilai pasaran yang kemudian dihitung mulai dari Kerta, Jasa, Candi, Rogoh, Sempoyong, yang masing-masing mengandung makna. Sedangkan nilai hari dan pasaran adalah Minggu = 5, Senin = 4, Selasa = 3, Rabu = 7, Kamis = 8, Jum’at = 6, dan Sabtu = 9. Pasaran, Pon = 7, wage = 4, Kliwon = 8, Legi = 5, dan Paing = 9. Jika rencana pembangunan rumah hari Minggu Pon, misalnya, maka cara menghitungnya: Minggu = 5 dan Pon = 7. Bila dijumlahkan nilainya 12, lalu dihitung mulai dari Kerta (1), Jasa (2), Candi (3), Rogoh (4), Sempoyong (5), Kerta (6), Jasa (7), Candi (8), Rogoh (9), Sempoyong (10), Kerta (11) dan Jasa (12). Karena jumlah nilainya 12, maka perhitungannya hanya sampai pada Jasa, yang artinya kuat sentosa. Jadi hari Minggu Pon merupakan hari baik untuk membangun atau memperbaiki rumah. Sedangkan pelaksanaannya harus dimulai pada pukul 06.00 atau 07.00 atau 11.00, dan ias juga pukul 13.00 dan 17.00. Karena waktu untuk membangun rumah juga telah ditentukan sesuai jumlah hitungan dari nilai hari dan nilai pasaran. Untuk mengetahui baik atau tidak tentang hari, sebagai patokannya adalah Kerta, Jasa, Candi, Rogoh, dan Sempoyong. Kerta, artinya mendapat banyak rejeki, Jasa berarti kuat sentosa, Candi artinya selamat sejahtera, Rogoh mengandung makna sering kecurian dan kematian, Sempoyong berarti seringkali pindah jauh dan tak tahan lama untuk dihuni. Sehingga, perhitungan yang baik adalah bila jatuh pada kerta, jasa dan candi. Agar rumah yang dibangun atau diperbaiki terasa sejuk, banyak tamu dan mendatangkan rezeki, juga ada syarat-syaratnya. Di bawah tiang-tiang yang dicor (kerangka besi) atau saka, harus diberi daun alang-alang, daun dadap srep, daun maja, daun kluwih, daun waru, kemudian disiram dengan kembang setaman. Pada ruang untuk calon kamar tidur dan ruang makan perlu ditanami kendi baru berisi air tawar sampai penuh dan batang pohon dadap srep. Sementara itu, sesajinya berupa kelapa hijau yang masih muda (degan), air kendi sepasang, jeruk, pisang raja dua sisir yang sudah tua dan pesesan katul. Pada pukul 24.00, tiang-tiang diberi telur ayam yang tidak dapat menetas (endhog wukan). Ini pun harus dicarikan hari, pasaran dan bulan yang baik. Hari dan pasaran yang baik adalah minggu kliwon, jumat paing, sabtu legi, selasa wage, rabu pon, kamis paing, senin wage, sabtu kliwon, rabu paing, kamis legi, jumat legi, dan selasa pon. Sedangkan bulan yang baik adalah Jumadilakir, Rejeb, Ruwah, Besar, Sapar, dan Rabiulakhir. Selain hari, pasaran, dan bulan tersebut, tidak diperbolehkan karena tidak baik. SEPERTI TUBUH MANUSIA Dengan demikian, pembangunan rumah Jawa lebih ditekankan pada proses terbentuknya yang bersendikan ritual, agama atau kepercayaan. “Wujud fisik justru menempati urutan paling belakang,” kata Eko Budihardjo. Sebaliknya, penentuan waktu membangun dan waktu yang tepat untuk mulai menempati bangunan, pemilihan lokasi, arah dan lain-lainnya, lebih penting daripada bangunannya itu sendiri. Bentuk rumahnya sendiri seperti struktur tubuh manusia. Hal ini berdasarkan pengamatan Mac Laine Pont dalam bukunya “Javaansche Architecture”. Arsitektur Jawa diatur sesuai dengan tubuh manusia, yang terbagi dalam 3 bagian, yaitu kepala (atap), badan (tiang atau dinding), dan kaki (umpak atau batur). Bila disusun, maka tata ruang dan rencana tapak rumah Jawa meliputi : Pendapa – Dalem – Gandok. Sehingga, letak pendapa yang digambarkan sebagai kepala, mesti berada paling depan. Dalem, yang merupakan symbol dari badan seperti jantung, hati dan paru-paru, letaknya harus di tengah. Sedangkan perut dan kaki untuk menggambarkan dapur, kamar mandi dan WC. Ruang untuk itu letaknya pasti di belakang. Sebab itu, “Orang Jawa kalau hendak buang air besar atau kecil pasti bilangnya ke belakang, karena letaknya memang di belakang,”kata Permadi. Letak kamar mandi dan WC di belakang memang sangat tepat ditinjau dari segi kesehatan, arsitektur dan lingkungan hidup. Susunan kamar pun disesuaikan dengan kedudukan para penghuninya. Kamar untuk orang tua letaknya di depan dan untuk anak-anak di belakang. Dan jika tata ruang tersebut diubah, menurut Permadi, akan menimbulkan akibat yang fatal bagi para penghuninya. Misalnya, kamar mandi dan WC dipindahkan ke kamar tidur agar praktis. Ini dapat menimbulkan stress berkepanjangan dan muncul keinginan-keinginan negative. Begitu pula bila anak-anak menempati kamar paling depan, sang anak bisa menjadi kurang ajar, hiperaktif, dan liar. Filosinya, anak tak ubahnya bawahan dan orang tua adalah pemimpin. Jika seorang bawahan berada paling depan, pasti akan berani melawan. Dalam pertempuran, misalnya. Jika sang pemimpin berada di belakang pasukannya pasti kocar-kacir. Itulah sebabnya arsitektur bangunan dan ruangan pada rumah tradisional Jawa mengandung nilai-nilai filosfi yang sangat tinggi. GEOMANSI JAWA & HONGSHUI CINA Di zaman Iptek Moderen, orang mendirikan suatu bangunan sepertinya semata-mata dilandasi oleh pertimbangan pragmatis, rasional dan efisiensi. Masalah-masalah teknis pada ujung tombaknya, dengan dijalin perhitungan ekonomis kemudian diberi bingkai wawasan estetik dari nuansa arsitektural. Orang yang mendirikan bangunan dengan landasan yang bercitra kultura, filsafati dan ritual, dewasa ini sudah mulai langka. Namun demikian, di sela-sela hiruk pikuk para pekerja dan teknisi merampungkan beban tugasnya, masih ada juga pihak yang tetap setia pada tradisi dalam kaitannya dengan upaya bangun membangun. Bahwa membangun rumah dan menata ruangannya, tidak asal Nampak serasi, melainkan rumah terasa nyaman sesuai dengan konsep Hongshui seperti diungkapkan oleh Salim SL Lee dari “Grand Marina” beberapa waktu berselang (WP, 25/11). Hongshui merupakan tradisi budaya Cina, yakni gabungan gaib dari pengertian-pengertian filsafati, system religi, astrologi, kosmologi, dan matematika, yang diterapkan dalam upaya mendirikan bangunan-bangunan penting. Dalam tradisi Jawa, untuk mendirikan suatu bangunan, tanah menduduki titik pusat perhatian strategis. Dalam tradisinya, terbentuklah konsep geomansi (geomancy) yang mengolah pandangan dan mengkaji ikhwal pertanahan kaitannya dengan upaya pendirian bangunan di atasnya berikut saat yang tepat memulainya agar membawa nasib baik bagi penghuninya. Ilmu geomansi Jawa telah mentradisi berabad-abad lamanya, terutama ketika orang menghitung berdirinya Candi Borobudur pada abad ke-9. Para empu di kraton-kraton dan pusat kerohanian (vihara) telah menghasilkan karya-karya tulis dalam bentuk manuskrip yang dewasa ini masih bisa disimak di kepustakaan kraton-kraton, perpustakaan-perpustakaan dan koleksi pribadi. Naskah berbahasa kawi (batu) mengenai geomansi Jawa, antara lain dapat disebutkan Titika Wisma, Kawruh Griya, Purwa Panti dan Wida Wismana. MACAM-MACAM TANAH Di dalam konsep geomansi Jawa telah dirumuskan macam-macam tanah dengan tata letak, arah, lingkungannya dengan ramalan nasib baik buruk bagi penghuninya. Ada kira-kira 16 macam tanah dengan macam dan karakteristiknya dan disertai nama-nama istilahnya. 1. Siti Bathara, tanah yang miring ke utara. Orang yang menghuni rumah pada tanah jenis ini akan banyak rezeki. 2. Siti Manikmaya, tanah yang miring ke arah timur. Penghuni rumah pada tanah ini bisa rukun. 3. Siti Sri Sadana, tanah miring kea rah barat. Penghuni rumah di atas tanah ini konon sering bertengkar (suami-isteri) dan tidak bisa rukun dengan tetangga. 4. Siti Sri Kamumula, tanah yang terletak di tepi sungai. Penghuninya murah rezeki, tak kurang sandang pangan. 5. Siti Bathari, tanah yang miring ke arah selatan. Penghuninya disayangi tetangga. 6. Siti Tegawarna, tanah yang dilingkari sungai, disebelah barat ada gunung. Penghuninya rukun selalu. 7. Siti Rajamala, tanah yang dikepung sungai sehingga seperti sebuah pulau. Penghuninya sering terkena musibah kematian keluarganya. 8. Siti Bojanalaya, tanah yang dibelakangnya terdapat sungai. Penghuni rumah di atas tanah ini tidak kekurangan apa pun tapi sering sakit-sakitan. 9. Siti Resi Brawala, tanah dibelakangnya ada sungai. Penghuninya kurang rukun, tapi bila taat beribadah, mereka disayang banyak orang. 10. Siti Pratiwa, tanah yang di depan dan belakang terdapat sungai. Penghuninya sering mendapat cobaan, tapi mampu menanggulanginya. Jika berhasil menanggulangi, maka bisa menjadi orang yang berwibawa. 11. Siti Mrananggana, tanah di depan tanah/rumah ada jurang. Jika penghuninya tekun bekerja banyak rezeki dan sehat selalu. 12. Siti Songsong Bawono, tanah yang dikitari gunung. Penghuni berpandangan luas dan selalu terhindar dari kesuitan. Disayang banyak orang. 13. Siti Kala Mratyu, tanah yang letaknya di dekat rawa, sungai dan pantai laut. Penghuninya selalu dirundung kesusahan. Selain itu, kalau berusaha/berdagang selalu merugi. Penghuninya juga sering terkena penyakit. 14. Siti Arjuna Wiwaha, tanah yang di sebelah barat laut ada gunung, selatan ada tanah datar, ada sungai yang mengalir dari arah barat ke timur. Penghuni selalu mujur dalam usaha. 15. Siti Langu Puwala, tanah yang dibatasi jurang-jurang. Penghuni akan menjadi orang yang suka tirakat. 16. Siti Dandang Kekalangan, tanah bekas kuburan atau dekat kuburan. Penghuni tak jarang kurang tenteram dalam hidupnya. Disamping itu, terdapat metode untuk mengidentifikasi tanah dengan cara melihat warna, bau dan merasakan dengan lidah. Tanah yang berwarna putih, rasanya manis, dan berbau wangi, itu tanah yang bagus. Penghuninya bisa ketiban rezeki yang berlimpah. Tanah berwarna kehijauan, terasa manis dan pedas, berbau busuk (banger), lebih bagus lagi. Penghuninya tak hanya kaya raya, tapi juga selalu lepas dari kesulitan, sehingga hidupnya bahagia. Jika tanah berwarna merah, rasanya manis, berbau pedas, juga tanah yang baik. Penghuninya cocok bila bekerja di bidang usaha peternakan. Jika tanah berwarna hitam, rasanya pahit dan berbau anyir, itu tanah yang jelek sekali. Konon, tanah jenis ini dihuni banyak makhluk halus jahat, sehingga tidak cocok untuk mendirikan rumah. Jadi, tidak semua tanah memiliki watak yang diharapkan oleh penghuninya. Namun, di dalam geomansi Jawa ada cara untuk menawar tanah yang berciri negative. Misalnya, dengan menanam telor angsa yang busuk (endhog wukan), menanam pohon delima, kemuning, cocor bebek, pohon asem, kayu urip (tanaman hijau tanpa daun), pisang batu, dan lainnya. Bagi masyarakat yang masih percaya dan menghargai tradisi Jawa, mengikuti anjuran dan ketentuan geomansi, akan merasa nyaman dan mantap. Sebaliknya, bagi masyarakat yang sudah tercerabut dari tradisi, geomansi itu tidak rasional dan mungkin digolongkan pada takhayul belaka. Namun, yang dapat dirangkum adalah rumah itu berdimensi fisik, estetik, filsafati, kulturan, dan ekonomis. Bangunan Tradisional Jawa Menurut Feng Shui Dalam seminar “Pengaruh Tata Letak Bangunan terhadap Keberhasilan (Hong Shui)” di Semarang 17 Desember lalu, salah satu pembicaranya adalah Mas Permadi SH, tokoh paranormal Indonesia. Dalam makalahnya tentang “Tata Letak Bangunan Berdasarkan adat Jawa”, ia mengatakan pada prinsipnya bangunan rumah tradisional Jawa dibuat sesuai dengan struktur tubuh manusia, yang dinilai paling sempurna di muka bumi ini. Ada kepala, tubuh, anggota badan lainnya. Melalui pancaran atau getaran bangunan tersebut, batin dapat merasakan adanya sifat-sifat getaran tersebut. Hal ini terjadi, tatkala memasuki rumah atau melihat sebuah bangunan. Yakni, adanya interaksi antara manusia dengan bangunan tersebut yang kemudian diterjemahkan ke mata batin sebagai rasa. Ada bangunan yang terasa sejuk, amat ramah dan penuh kedamaian. Sebaliknya, ada pula getaran yang kontra dengan kita, seperti rasa singup, seram dan panas, sehingga membuat orang tidak tertarik, meski baru pertama memasukinya. Denah bangunan tradisional Jawa yang menyerupai tubuh manusia, unsure kepala identik dengan pendopo, tubuh identik dengan pakaian, sentong, dan lainnya. Sedangkan kamar mandi dan WC, letaknya selau di belakang. Juga dapur dan gudang. Namun, struktur bangunan Jawa berbentuk Joglo mengandung makna: penghuninya selalu taat dan menyembah tuhan Yang Maha Esa. Sekarang bila dikaitkan dengan bangunan Jawa tradisional lewat kaca mata ilmu Feng Shui, yang biasanya menghitung bangunan tradisional Cina, penulis berpendapat antara bangunan Jawa dan Cina terdapat banyak persamaan dalam globalisasi bangunan, baik posisi maupun fungsinya. Karena, pada bangunan Cina kuno yang dihitung berdasarkan Feng Shui, juga dijumpai pendopo (ruang tamu) sebagai rumah depan. Di belakangnya (ruang tengah) ada ruang terbuka, biasanya sayap kanan dan kirinya ada teras jalan yang menghubungkan dengan ruang belakang. Di rumah bagian tengah inilah, ibarat tubuh manusia, dimana aktivitas kehidupan dijalankan. Ada kamar, ruang belajar, dan lainnya. Pada bagian tengah adalah taman, dapur, gudang, kamar mandi/WC, yang terletak di bagian sayap kanan dan kiri bagian belakang. Bila dikaitkan dengan keyakinan holistic, juga mempunyai kesamaan. Dengan adanya kepercayaan selamatan atau syukuran waktu awal pembangunan, waktu pemasangan kuda-kuda atau Tiong Cit sampai saat pindahan. Jadi tujuannya sama, yaitu mohon diberi selamat dan berkah agar murah sandang dan pangan. Berdasarkan pengamatan penulis terhadap bangunan tradisional Jawa dan Cina, perbedaannya hanya pada struktur tanahnya saja. Tapi, definisi dan argumentasi tentang tanah tak jauh berbeda. Pada bangunan Jawa tradisional, terutama Solo dan Yogya, selalu membangun pada tanah dengan posisi yang sentongnya (pusat bangunan) adalah yang paling tinggi di antara lainnya. Mungkin karena memiliki makna:”Duduk di atas gunung memandang lautan luas, bila badai datang penghuni masih bisa berlindung di balik gunung”. Ini dapat diartikan bahwa penghuni bangunan sangat berhati-hati dan waspada, juga selalu memikirkan anak keturunannya agar kelak masih bisa menikmati kejayaannya. Sedangkan pada ilmu Feng Shui ada pepatah:”Duduk bersandar pada gunung untuk melihat lautan luas”. Ini sebagai visualisasi tanah di bagian belakang harus lebih tinggi dari yang di depan, sehingga pandangan akan lebih luas dan lapang melihat ke jalanan bagian depan rumahnya. Tetapi pepatah di atas sering disalah artikan dan diterjemahkan apa adanya. Akibatnya, sering salah dalam mengartikan pepatah tersebut. Padahal, pepatah di atas mestinya diartikan : “penghuni berharap bisa kokoh bertahan menjaga kejayaan yang didapat”. Dari perbedaan struktur tanah di atas, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa baik bangunan tradisional Jawa atau pun Cina, menurut kaca mata Feng Shui adalah sama. Perbedaannya hanya terletak pada pakem yang dikaitkan dengan keyakinan holistic saja. Dan bila ditarik lebih jauh lagi ke belakang, terdapat adanya kesamaan pada nara sumber kepercayaan yang bersifat universal. Ramuan Konsep Budaya Jawa dan Moderen Di dalam Perumahan-perumahan modern pagar sudah ditiadakan contoh di Grand Marina, BSD , dan masih banyak lagi , berdiri dengan megah di kanan kiri jalan. Interior ruangan tertata apik dan terasa nyaman, hingga membuat penghuninya betah tinggal di rumah.”Rumah di kawasan ini merupakan perpaduan antara konsepsi budaya Jawa dan modern,”kata Salim SL Lee, Konsultan Perumahan Grand Marina. Dengan demikian, semua penghuni dapat melihat laut pada pagi hari tatkala hendak pergi ke kantor mereka pulang ke rumah masing-masing. Konsep budaya Jawa itu tampak pada bentuk rumah dan lingkungan kawasan tempat berdiri rumah-rumah yang bakal dibangun di perumahan ini. Ketinggian rumah dari jalan 2,5 meter dan tinggi jalan-jalan lingkungan 3 meter di atas air pasang maksimal, sehingga tak bakal kebanjiran. Ini tak berbeda dengan rumah adat Jawa di tepi pantai pada umumnya rumah panggung agar tidak kebanjiran jika air laut pasang. Apalagi drainase dibuat lebar dengan ukuran 50 cm. Sedangkan unsure moderen, tampak pada gaya arsitektur rumah dan bahan bangunan yang digunakan. Lingkungan rumah yang serasi dengan alam, menurut Permadi SH, tokoh paranormal Indonesia, memang merupakan konsep budaya Jawa. Sebab, “Menurut konsep budaya Jawa, dalam membangun rumah seyogyanya diserasikan dengan alam”, katanya. Lokasi bangunan rumah harus diselaraskan dengan semua benda yang sifatnya alamiah seperti arah mata angin dan matahari. Di sekitar rumah yang dihuni harus ditanami berbagai jenis pepohonan, sehingga bangunan itu Nampak menyatu dengan alam. Tentu, tidak sembarang tanaman. “Tanaman yang dapat menimbulkan akibat negative pada penghuni rumah harus dihindarkan,”kata Permadi. Ia menolak menyebutkan jenis tanaman, karena khawatir akan merugikan penjual tanaman. Sebaliknya, penghuni rumah diwajibkan untuk menanam bunga-bunga yang mendinginkan suasana dan menyebarkan keharuman seperti bunga mawar dan melati. Di samping itu, juga dianjurkan menanam pohon-pohon yang dapat menangkal perbuatan jahat, misalnya “santet”. Pohon-pohon penolak bala itu, diantaranya “tebu wulung”,”pring (bamboo) kuning, dan “kelapa hijau”. Bahkan, kalau rumah untuk orang-orang penting, misalnya raja dan pangeran, unsur-unsur yang terdapat dalam rumah itu lebih njlimet lagi. Bahan bangunannya benar-benar pilihan. Contohnya, kayu jati, harus diambil dari hutan tertentu. Pohon yang ditanam di sekitar istana adalah pohon langka, antara lain sawo kecik dan lainnya. SISTIM DAPUR MENURUT FENG SUI Dapur merupakan sarana penting dan memiliki pengaruh besar terhadap kesejahteraan penghuni rumah. dalam komposisi Feng Shui , dapur dapat memberi pengaruh kebaikan, sehingga nilai keberuntungan dan kebahagiaan yang melimpah tercurah kepada penghuni. sebaliknya, penerapan aturan Feng Shui yang kurang pas akan mempengaruhi factor kebahagiaan dan berkurangnya keberuntungan. Menurut ilmu Feng Shui, sebuah rumah tinggal (kecuali bangunan kantor di toko) wajib memiliki ruang dapur. Sebab, dapur diibaratkan sebagai perut manusia yang mengolah sari makanan dan meyimpannya untuk kebutuhan hidup penghuninya. sebuah rumah yang tidak memiliki dapur, seperti tubuh yang tidak memiliki lambung/perut, maka kehidupan pun tidak bisa berlangsung lama. Sedangkan untuk kantor dan toko, ruang dapur dan pelengkapnya tidak terlalu dibutuhkan, sebab fungsi bangunan yang dimaksud hanya untuk usaha. Dalam ilmu Feng Shui, dapur adalah satu dari tiga hal penting sesudah pintu utama dan kamar tidur. Oleh sebab itu ketiga hal tersebut wajib ditata dalam komposisi yang benar dan letaknya harus tepat. apabila salah satu factor di atas berada dalam komposisi yang salah akan menyebabkan keseimbangan kehidupan terganggu. untuk tata Feng Shui yang benar, masing-masing obyek tersebut akan memberi nilai keberuntungan yang dikaitkan dengan factor kemakmuran dan kebahagiaan seperti berikut: 1. Posisi pintu utama dalam Feng Shui diibaratkan sebagai mulut yang dapat menarik hawa rezeki kehidupan. 2. Letak kamar tidur sebagai ruang untuk menciptakan keharmonisan, ketenteraman dan kebahagiaan hidup berkeluarga. 3. Dapur sebagai media yang memberikan nilai kesejahteraan, kemakmuran, keharmonisan, dan kesehatan yang baik. Sedemikian pentingnya fungsi dapur dalam kacamata ilmu Feng Shui dan kehidupan budaya masyarakat Tiongkok kuno sehingga terdapat mitologi tentang Dewa Dapur/Zhou Jun (dalam dialek Hokkian disebut Chou Kun Kong). Dewa Dapur adalah sebagai malaikat pengawas dari Tuhan Khalik Semesta Alam untuk mencatat semua perbuatan baik dan buruk dari semua penghuni untuk kemudian dilaporkan kepada Tuhan, sehingga dapat diputuskan satu pahala atau hukuman. Cerita budaya diatas mengandung filosofis multi dimensi agar manusia takut untuk berbuat dosa, karena Tuhan memiliki malaikat yang senantiasa mengawasi seluruh perbuatan seseorang. Lantai Dapur Harus Lebih Tinggi Karena dapur adalah tempat bersemayam Dewa Dapur/Zhao Jun maka lantai ruang dapur perlu ditinggikan sebagai langkah penghormatan. Kebersihan dapur juga perlu dijaga dengan benar agar Dewa Dapur merasa senang sehingga sudi memberi berkah kebaikan yang melimpah pada keluarga yang menghargainya. Meninggikan lantai dapur cukup 5 sampai 10 cm dan paling baik memberi nuansa warna yang berbeda. Dengan demikian orang menjadi lebih tahu agar saat melaluinya kaki tidak terantuk. Dalam penjabaran Feng Shui Logika, meninggikan lantai ruang dapur dari ruang lain di sekitarnya sangat dibenarkan. Sebab sampah dari sisa produk masakan yang berupa limbah cair atau padat dapat dengan mudah dibersihkan. Ruang dapur dengan lantai lebih rendah dari ruang yang lainnya akan membuat kita kesulitan membersihkan. Tempat yang rendah atau cekung akan menyimpan lebih banyak kotoran maupun kuman. Dapur Harus Bersih dan Sirkulasi Udara Baik Dapur pun layak dijaga kebersihannya. Sebagai ruang pengolah makanan untuk santapan, dapur paling rawan dengan berbagai kuman penyakit apabila sanitasi kebersihannya tidak dijaga dengan baik. Bila ruangan kotor maka makanan mudah terkontaminasi kuman. Bila dimakan oleh manusia, maka penyakit berat akan melanda dan keberuntungan akan berubah menjadi bencana. Sirkulasi udara dan sinar matahari juga perlu diperhitungkan. Tempat yang kelewat lembab dan pengap akan membentuk sha qi (energy pembunuh/sarang kuman) yang mematikan. Sedangkan tempat yang memiliki sirkulasi baik, asap masakan tidak akan masuk ke dalam ruang rumah maupun kamar. Asap masakan biarpun baunya sedap tetapi bukan sebagai udara yang bersih, yang dapat menyebabkan penyakit. Itulah sebabnya timbul larangan pintu dapur berhadapan dengan pintu kamar. Letak Dapur yang Baik Karena dapur melambangkan bentuk perwujudan tubuh manusia, maka letaknya paling baik sedikit di bagian belakang dari batas tengah bangunan. Artinya jangan terlalu ke belakang tetapi posisinya juga tidak boleh di bagian depan rumah. Hal-hal berikut ini yang perlu Anda perhatikan: · Dapur di bagian depan rumah, sering mengundang banyak bencana khususnya untuk karier dan keuangan. · Ruang dapur terlihat dari jalan raya sering berakibat buruk terhadap hubungan keharmonisan dan kesetiaan antara suami dan istri. Selain itu sisi keuangan menjadi boros karena godaan batin juga besar. · Dapur paling pantang kalau letaknya di bawah kamar mandi/WC untuk bangunan bertingkat. Komposisi ini hanya akan mengundang kesialan yang panjang dalam hidup. · Ruang dapur juga jangan te


TATA RANCANG KONSTRUKSI & DESAIN RUMAH


TATA CARA RANCANG BANGUN KONSTRUKSI RUMAH 
SEHAT LAHIR BATIN






Sebuah hunian atau bangunan rumah sebagai tempat tinggal yang baik secara teknis, juga dilihat sedikit dari sudut pandang Adat Tata Cara Jawa dan Adat Tata Cara Cina (Fengsui), Dari sudut teknis disini sebaiknya harus memenuhi standart yang dipersyaratkan, minimal ada dua antara lain satu dari segi teknis dapat dipertanggung  jawabkan, dua dari segi kesehatan yaitu sirkulasi udara dan sistim sanitasi  sebagai pembuangan limbah akhir (cair dan sampah).
Hunian rumah sebagai tempat tinggal ada beberapa syarat yang mesti diperhatikan antara lain sebagai berikut ;
1.   Aman    ; a. Aman dalam artian memenuhi standart minimal scara teknis konstrusi rumah yang dipersyaratkan.
                     b. Lokasi (lahan) tanah dan letak dimana tempat suatu bangunan rumah akan didirikan contoh mis, tempat tersebut dekat dengan pabrik yang banyak mengeluarkan limbah baik udara, limbah cair yang tentu saja membahayakan kesehatan manusia (penghuninya) sudah banyak hal-hal yang terjadi, dan masih banyak lagi contoh lainnya.   
2.   Nyaman;  Nyaman disini dalam artian bagi penghuninya akan merasa nyaman, tenang, aman dari gangguan lahir maupun batin, gangguan lahir mis; letaknya bersebelahan dengan pasar kenapa pasar? Dikarenakan tempat konsentrasinya berbagai macam manusia, menurut agama islam pasar adalah tempat yang strategis bagi golongan syetan untuk menjalankan misi licik dan jahatnya agar yang berkunjung terjerumus dalam tipu muslihat jual/ beli, disamping kurang tenang juga ada hal-hal lain.
Gangguan batin mis; tata letak bangunan diluar maupun didalamnya yang kurang pas salah satunya letak kamar mandi berhadapan dengan kamar makan dan juga bila menggunakan perhitungan adat Jawa dan feng sui.
3.   Sehat     ;  Sehat dalam artian secara teknis sistim sirkulasi udara dan sanitasi pembuangan air
                     limbah, sampah terpenuhi.
Demikian lebih lanjut bisa dibaca dan dilihat beragam rumah dengan sistim dan syaratnya, lebih lanjut sedikit artikel ini diharapkan dapat melengkapi beragam sistim perumahan anda dan seterusnya semoga dapat bermanfaat bagi anda, saudara semua, Amin








TATA ADAT DAN KONSTRUKSI RUMAH JAWA

Tata Bangunan rumah tradisional Adat Jawa yang memiliki nilai-nilai luhur, kerapkali dilupakan, namun, bila memahami makna yang terkandung di dalam Tata bangunan rumah tradisional Jawa, kita akan menyadari betapa agung ciptaan nenek moyang kita itu wujud fisiknya benar-benar menyatu dengan alam sekitarnya. Bentuk rumah Jawa yang terdiri dari atap, tiang,dinding dan umpak atau batur, tak ubahnya tubuh manusia yang terdiri dari kepala, badan dan kaki.
Di daerah Jawa khususnya Jawa Tengah bagian Selatan, aspek non-fisik seperti arah bangunan menjadi factor yang sangat penting, bangunan rumah menghadap arah selatan  mengandung makna tersendiri. Selain atas dasar kepercayaan terhadap Ratu Pantai Selatan (Nyi Roro Kidul), rumah tersebut cukup baik bila dilihat dari sudut arsitektur karenanya banyak rumah tradisional yang menghadap arah selatan, dengan tujuan untuk memberikan penghormatan.  Sementara itu, dibeberapa daerah lain, gunung dijadikan lambang alam atas dan laut sebagai symbol alam bawah. Begitu pula arah matahari terbit dan terbenam arah utara dan selatan, mengandung makna tersendiri.
Hal itu menunjukkan arsitektur Jawa lebih menekankan pada proses terbentuknya yang bersendikan ritual, agama atau kepercayaan. meskipun demikian, arsitektur Jawa mampu menjawab tantangan zaman selama berabad-abad lamanya.
Arsitektur Jawa sangat dikenal, tak hanya di daerahnya sendiri, melainkan mampu menembus mancanegara, sebagaimanan dimuat dalam Architectural Record, Agustus 1985. Gedung American Bandstan di Ohio, AS, mengambil contoh dari arsitektur Jawa. karena itu, sudah sepatutnya jika masyarakat Jawa khususnya dan bangsa Indonesia umumnya, harus bangga dengan kenyataan tersebut.
            Dalam era pembangunan sekarang, rumah gaya arsitektur kontemporer atau disebut modern lebih digandrungi ketimbang rumah bergaya tradisional. Mungkin karena rumah modern di berbagai kota dianggap lebih praktis. Sedangkan rumah tradisional dianggap sudah tak sesuai lagi dengan zaman yang menuntut kerja cepat.
Bagaimana sebenarnya proses pembangunan rumah Jawa dan gaya arsitekturnya, kami mencoba mengangkat, dan meninformasikan juga soal bangunan rumah mewah di kawasan eksklusif yang menerapkan konsep budaya Jawa. dan rumah hunian yang aman nyaman sebagai salah satu factor utama.

RANCANG BANGUN RUMAH DENGAN KONSEP BUDAYA JAWA
            Dalam memilih tempat tinggal atau rumah, masyarakat Jawa selalu berupaya untuk menselaraskan dengan tata adat dan budaya jawa dengan tata lingkunganya dalam membangun dan menempati sebuah rumah masih dipegang teguh, lantaran cara mereka berpikir dan bertindak didasarkan pada konsep holistik. Yakni, konsep yang dilihat dari beberapa sudut.
            Masyarakat Jawa menyadari manusia dilahirkan ke dunia ini tidak sendirian, melainkan bersama makhuk-makhluk lain, yaitu tumbuh-tumbuhan, binatang dan makhluk halus. Juga mempunyai saudara, kakek-nenek yang masih hidup atau meninggal harus dihormati.
Sementara itu, bumi yang ditempati ini hanyalah bagian kecil saja dari bagian tata surya yang ada. Tapi yang paling penting dalam konsep holistic : semuanya diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
            Menurut paranormal Indonesia Permadi SH, orang jawa dalam mengarungi kehidupannya mesti bekerja sama dan saling samat-sinamat antara manusia dengan manusia, manusia dengan tumbuh-tumbuhan, manusia dengan binatang dan manusia dengan makhuk halus. Disamping itu, manusia dengan baunya, airnya, dengan apinya dan unsur-unsurnya. “Semua itu disadari sepenuhnya bahwa kehidupan yang serasi dan seimbang adalah atas kehendak Tuhan untuk kebaikan,” katanya.
            Dengan demikian, dalam membangun rumah harus ada interaksi antara yang akan tinggal dengan lokasi yang akan ditempati untuk itu alam disekitarnya yang kasat mata menjadi pertimbangan utama. “Manunggaling kawula lan Gusti lantas diejawantahkan dalam bentuk persenyawaan yang tuntas antara arsitektur, alam, manusia, dan Tuhannya,”kata Prof Eko Budihardjo, Guru Besar Jurusan Arsitektur Undip.
            Jadi, masyarakat Jawa percaya tanah yang akan dibangun rumah telah dihuni makhluk halus. Karenanya, harus ada negoisasi atau permintaan ijin dari yang mbaurekso. “Wong rakyat yang tergusur saja harus diberi ganti rugi dan disediakan tempat, tentunya perlakuan yang sama juga harus diberikan pada makhluk lain yang tak tampak,”kata Permadi. Caranya, dengan melakukan upacara atau selamatan menanam kepala kerbau.

PEMILIHAN LAHAN (TANAH)
Selamatan membangun rumah atau ngedekake omah dimulai dari sejak meratakan tanah sampai dengan memasang atap bertujuan agar tidak diganggu oleh yang mbaurekso itu. Karena bagi orang Jawa, fungsi tanah yang sangat bagus tak dapat dipisahkan dari kehidupannya. sehingga dalam memilih tanah untuk ditempati mesti hati-hati, tidak asal comot.
Menurut R. Ismunandar K, dalam bukunya “Joglo, Arsitektur Rumah Tradisional Jawa”, tanah yang baik ada 14 macam. Yakni, Manikmulya (tanah miring ke timur), Indrapasta (miring ke utara), Sangsangbuwana (tanah dikelilingi gunung atau perbukitan), Bumi Langupula (tanah bekas kuburan), Darmalungit (tanah miring ke timur), Sri Nugraha (tanah yang bagian barat tinggi, bagian timur datar), Wisnumanitis (tanah yang bagian utara naik turun), dan Endragana (tanah datar yang bagian tengah dan sekitarnya lebih tinggi).
Lalu, Srimangepel (tanah yang terbentang di tengah-tengah lembah dan banyak sumber airnya), Arjuna (tanah miring ke kanan dan bagian utara atau selatan tertutup bukit), Tigawarna (tanah dikelilingi gunung yang menjorok ke tanah), Danarasa (tanah bagian baratnya tinggi dan utara rendah), Sunilayu (tanah dikelilingi lembah), dan Lamurwangke (tanah diapit gunung atau bukit).
Sedangkan tanah yang tidak cocok untuk membangun perumahan, jumlahnya ada 9 macam. Yakni, Sri Sadana (tanah miring ke barat), Gelagah (tanah miring ke selatan), Sekarsinom (tanah miring ke selatan dan langsung berhadapan dengan rawa), Kalawis (tanah sebeah timur agak tinggi, tapi sebelahnya rendah), Siwahboja (tanah naik turun menuju ke selatan), Bramapendem (tanah yang memancarkan merah kekuning-kuningan), Sigarpenjalin (tanah di sekelilingnya mengandung air), Asungelak (tanah di bagian barat gunung) dan Singamet (tanah yang bagian tengahnya terdapat air atau sumber air).
Upacara mendirikan rumah itu, menurut Thomas Wijaya Bratawidjaja, dalam bukunya “Upacara Tradisional Masyarakat Jawa”, dilakukan di tempat bangunan rumah akan didirikan. Tujuannya, untuk mengusir roh-roh jahat. Dalam upacara yang dipimpin oleh Pak Kaum, seperangkat alat-alat untuk keperluan tersebut harus dipersiapkan sebelumnya. Alat-alat tersebut adalah padi bunting (pari meteng) satu ikat, degan (kelapa muda) 8 butir, pisang ayu satu tandan berupa pisang raja, perlengkapan makan sirih (nginang) berupa gambir, pinang, tembakau, sekapur sirih dan ditambah cermin kecil.
Peralatan lain yang diperlukan adalah kain bango tulak (kain yang ujungnya berwarna biru atau hitam), tukon pasar atau jajan pasar dan 2 tampah (nyiru), beras dan telor di dalam empuk (periuk kecil dari tanah liat), urip-urip (ayam jantan), berbagai macam jenang (jenang abang, jenang bero satu tampah), sega golong (nasi yang bulat-bulat), nasi gurih (nasi campur santan), kembang setaman (bunga beraneka macam), dan tumpeng (nasi berbentuk piramida).




PERHITUNGAN MEMBANGUN RUMAH
Namun, untuk membangun rumah harus dicarikan hari baik, yaitu hari yang sesuai dengan nilai hari dan nilai pasaran yang kemudian dihitung mulai dari Kerta, Jasa, Candi, Rogoh, Sempoyong, yang masing-masing mengandung makna. Sedangkan nilai hari dan pasaran adalah Minggu = 5, Senin = 4, Selasa = 3, Rabu = 7, Kamis = 8, Jum’at = 6, dan Sabtu = 9. Pasaran, Pon = 7, wage = 4, Kliwon = 8, Legi = 5, dan Paing = 9.
Jika rencana pembangunan rumah hari Minggu Pon, misalnya, maka cara menghitungnya: Minggu = 5 dan Pon = 7. Bila dijumlahkan nilainya 12, lalu dihitung mulai dari Kerta (1), Jasa (2), Candi (3), Rogoh (4), Sempoyong (5), Kerta (6), Jasa (7), Candi (8), Rogoh (9), Sempoyong (10), Kerta (11) dan Jasa (12). Karena jumlah nilainya 12, maka perhitungannya hanya sampai pada Jasa, yang artinya kuat sentosa. Jadi hari Minggu Pon merupakan hari baik untuk membangun atau memperbaiki rumah. Sedangkan pelaksanaannya harus dimulai pada pukul 06.00 atau 07.00 atau 11.00, dan ias juga pukul 13.00 dan 17.00. Karena waktu untuk membangun rumah juga telah ditentukan sesuai jumlah hitungan dari nilai hari dan nilai pasaran.
Untuk mengetahui baik atau tidak tentang hari, sebagai patokannya adalah Kerta, Jasa, Candi, Rogoh, dan Sempoyong. Kerta, artinya mendapat banyak rejeki, Jasa berarti kuat sentosa, Candi artinya selamat sejahtera, Rogoh mengandung makna sering kecurian dan kematian, Sempoyong berarti seringkali pindah jauh dan tak tahan lama untuk dihuni. Sehingga, perhitungan yang baik adalah bila jatuh pada kerta, jasa dan candi.
Agar rumah yang dibangun atau diperbaiki terasa sejuk, banyak tamu dan mendatangkan rezeki, juga ada syarat-syaratnya. Di bawah tiang-tiang yang dicor (kerangka besi) atau saka, harus diberi daun alang-alang, daun dadap srep, daun maja, daun kluwih, daun waru, kemudian disiram dengan kembang setaman. Pada ruang untuk calon kamar tidur dan ruang makan perlu ditanami kendi baru berisi air tawar sampai penuh dan batang pohon dadap srep.
Sementara itu, sesajinya berupa kelapa hijau yang masih muda (degan), air kendi sepasang, jeruk, pisang raja dua sisir yang sudah tua dan pesesan katul. Pada pukul 24.00, tiang-tiang diberi telur ayam yang tidak dapat menetas (endhog wukan). Ini pun harus dicarikan hari, pasaran dan bulan yang baik. Hari dan pasaran yang baik adalah minggu kliwon, jumat paing, sabtu legi, selasa wage, rabu pon, kamis paing, senin wage, sabtu kliwon, rabu paing, kamis legi, jumat legi, dan selasa pon. Sedangkan bulan yang baik adalah Jumadilakir, Rejeb, Ruwah, Besar, Sapar, dan Rabiulakhir. Selain hari, pasaran, dan bulan tersebut, tidak diperbolehkan karena tidak baik.

SEPERTI TUBUH MANUSIA
Dengan demikian, pembangunan rumah Jawa lebih ditekankan pada proses terbentuknya yang bersendikan ritual, agama atau kepercayaan. “Wujud fisik justru menempati urutan paling belakang,” kata Eko Budihardjo. Sebaliknya, penentuan waktu membangun dan waktu yang tepat untuk mulai menempati bangunan, pemilihan lokasi, arah dan lain-lainnya, lebih penting daripada bangunannya itu sendiri.
Bentuk rumahnya sendiri seperti struktur tubuh manusia. Hal ini berdasarkan pengamatan Mac Laine Pont dalam bukunya “Javaansche Architecture”. Arsitektur Jawa diatur sesuai dengan tubuh manusia, yang terbagi dalam 3 bagian, yaitu kepala (atap), badan (tiang atau dinding), dan kaki (umpak atau batur). Bila disusun, maka tata ruang dan rencana tapak rumah Jawa meliputi : Pendapa – Dalem – Gandok. Sehingga, letak pendapa yang digambarkan sebagai kepala, mesti berada paling depan.
Dalem, yang merupakan symbol dari badan seperti jantung, hati dan paru-paru, letaknya harus di tengah. Sedangkan perut dan kaki untuk menggambarkan dapur, kamar mandi dan WC. Ruang untuk itu letaknya pasti di belakang. Sebab itu, “Orang Jawa kalau hendak buang air besar atau kecil pasti bilangnya ke belakang, karena letaknya memang di belakang,”kata Permadi. Letak kamar mandi dan WC di belakang memang sangat tepat ditinjau dari segi kesehatan, arsitektur dan lingkungan hidup. Susunan kamar pun disesuaikan dengan kedudukan para penghuninya. Kamar untuk orang tua letaknya di depan dan untuk anak-anak di belakang.
Dan jika tata ruang tersebut diubah, menurut Permadi, akan menimbulkan akibat yang fatal bagi para penghuninya. Misalnya, kamar mandi dan WC dipindahkan ke kamar tidur agar praktis. Ini dapat menimbulkan stress berkepanjangan dan muncul keinginan-keinginan negative.
Begitu pula bila anak-anak menempati kamar paling depan, sang anak bisa menjadi kurang ajar, hiperaktif, dan liar. Filosinya, anak tak ubahnya bawahan dan orang tua adalah pemimpin. Jika seorang bawahan berada paling depan, pasti akan berani melawan. Dalam pertempuran, misalnya. Jika sang pemimpin berada di belakang pasukannya pasti kocar-kacir.
Itulah sebabnya arsitektur bangunan dan ruangan pada rumah tradisional Jawa mengandung nilai-nilai filosfi yang sangat tinggi.



GEOMANSI JAWA & HONGSHUI CINA
Di zaman Iptek Moderen, orang mendirikan suatu bangunan sepertinya semata-mata dilandasi oleh pertimbangan pragmatis, rasional dan efisiensi. Masalah-masalah teknis pada ujung tombaknya, dengan dijalin perhitungan ekonomis kemudian diberi bingkai wawasan estetik dari nuansa arsitektural. Orang yang mendirikan bangunan dengan landasan yang bercitra kultura, filsafati dan ritual, dewasa ini sudah mulai langka.
Namun demikian, di sela-sela hiruk pikuk para pekerja dan teknisi merampungkan beban tugasnya, masih ada juga pihak yang tetap setia pada tradisi dalam kaitannya dengan upaya bangun membangun. Bahwa membangun rumah dan menata ruangannya, tidak asal Nampak serasi, melainkan rumah terasa nyaman sesuai dengan konsep Hongshui seperti diungkapkan oleh Salim SL Lee dari “Grand Marina” beberapa waktu berselang (WP, 25/11).
Hongshui merupakan tradisi budaya Cina, yakni gabungan gaib dari pengertian-pengertian filsafati, system religi, astrologi, kosmologi, dan matematika, yang diterapkan dalam upaya mendirikan bangunan-bangunan penting.
            Dalam tradisi Jawa, untuk mendirikan suatu bangunan, tanah menduduki titik pusat perhatian strategis. Dalam tradisinya, terbentuklah konsep geomansi (geomancy) yang mengolah pandangan dan mengkaji ikhwal pertanahan kaitannya dengan upaya pendirian bangunan di atasnya berikut saat yang tepat memulainya agar membawa nasib baik bagi penghuninya. Ilmu geomansi Jawa telah mentradisi berabad-abad lamanya, terutama ketika orang menghitung berdirinya Candi Borobudur pada abad ke-9. Para empu di kraton-kraton dan pusat kerohanian (vihara) telah menghasilkan karya-karya tulis dalam bentuk manuskrip yang dewasa ini masih bisa disimak di kepustakaan kraton-kraton, perpustakaan-perpustakaan dan koleksi pribadi. Naskah berbahasa kawi (batu) mengenai geomansi Jawa, antara lain dapat disebutkan Titika Wisma, Kawruh Griya, Purwa Panti dan Wida Wismana.

MACAM-MACAM TANAH
Di dalam konsep geomansi Jawa telah dirumuskan macam-macam tanah dengan tata letak, arah, lingkungannya dengan ramalan nasib baik buruk bagi penghuninya. Ada kira-kira 16 macam tanah dengan macam dan karakteristiknya dan disertai nama-nama istilahnya.
1.      Siti Bathara, tanah yang miring ke utara. Orang yang menghuni rumah pada tanah jenis ini akan banyak rezeki.
2.      Siti Manikmaya, tanah yang miring ke arah timur. Penghuni rumah pada tanah ini bisa rukun.
3.      Siti Sri Sadana, tanah miring kea rah barat. Penghuni rumah di atas tanah ini konon sering bertengkar (suami-isteri) dan tidak bisa rukun dengan tetangga.
4.      Siti Sri Kamumula, tanah yang terletak di tepi sungai. Penghuninya murah rezeki, tak kurang sandang pangan.
5.      Siti Bathari, tanah yang miring ke arah selatan. Penghuninya disayangi tetangga.
6.      Siti Tegawarna, tanah yang dilingkari sungai, disebelah barat ada gunung. Penghuninya rukun selalu.
7.      Siti Rajamala, tanah yang dikepung sungai sehingga seperti sebuah pulau. Penghuninya sering terkena musibah kematian keluarganya.
8.      Siti Bojanalaya, tanah yang dibelakangnya terdapat sungai. Penghuni rumah di atas tanah ini tidak kekurangan apa pun tapi sering sakit-sakitan.
9.      Siti Resi Brawala, tanah dibelakangnya ada sungai. Penghuninya kurang rukun, tapi bila taat beribadah, mereka disayang banyak orang.
10.  Siti Pratiwa, tanah yang di depan dan belakang terdapat sungai. Penghuninya sering mendapat cobaan, tapi mampu menanggulanginya. Jika berhasil menanggulangi, maka bisa menjadi orang yang berwibawa.
11.  Siti Mrananggana, tanah di depan tanah/rumah ada jurang. Jika penghuninya tekun bekerja banyak rezeki dan sehat selalu.
12.  Siti Songsong Bawono, tanah yang dikitari gunung. Penghuni berpandangan luas dan selalu terhindar dari kesuitan. Disayang banyak orang.
13.  Siti Kala Mratyu, tanah yang letaknya di dekat rawa, sungai dan pantai laut. Penghuninya selalu dirundung kesusahan. Selain itu, kalau berusaha/berdagang selalu merugi. Penghuninya juga sering terkena penyakit.
14.  Siti Arjuna Wiwaha, tanah yang di sebelah barat laut ada gunung, selatan ada tanah datar, ada sungai yang mengalir dari arah barat ke timur. Penghuni selalu mujur dalam usaha.
15.  Siti Langu Puwala, tanah yang dibatasi jurang-jurang. Penghuni akan menjadi orang yang suka tirakat.
16.  Siti Dandang Kekalangan, tanah bekas kuburan atau dekat kuburan. Penghuni tak jarang kurang tenteram dalam hidupnya. Disamping itu, terdapat metode untuk mengidentifikasi tanah dengan cara melihat warna, bau dan merasakan dengan lidah. Tanah yang berwarna putih, rasanya manis, dan berbau wangi, itu tanah yang bagus. Penghuninya bisa ketiban rezeki yang berlimpah.
Tanah berwarna kehijauan, terasa manis dan pedas, berbau busuk (banger), lebih bagus lagi. Penghuninya tak hanya kaya raya, tapi juga selalu lepas dari kesulitan, sehingga hidupnya bahagia. Jika tanah berwarna merah, rasanya manis, berbau pedas, juga tanah yang baik. Penghuninya cocok bila bekerja di bidang usaha peternakan. Jika tanah berwarna hitam, rasanya pahit dan berbau anyir, itu tanah yang jelek sekali. Konon, tanah jenis ini dihuni banyak makhluk halus jahat, sehingga tidak cocok untuk mendirikan rumah.

Jadi, tidak semua tanah memiliki watak yang diharapkan oleh penghuninya. Namun, di dalam geomansi Jawa ada cara untuk menawar tanah yang berciri negative. Misalnya, dengan menanam telor angsa yang busuk (endhog wukan), menanam pohon delima, kemuning, cocor bebek, pohon asem, kayu urip (tanaman hijau tanpa daun), pisang batu, dan lainnya.
Bagi masyarakat yang masih percaya dan menghargai tradisi Jawa, mengikuti anjuran dan ketentuan geomansi, akan merasa nyaman dan mantap. Sebaliknya, bagi masyarakat yang sudah tercerabut dari tradisi, geomansi itu tidak rasional dan mungkin digolongkan pada takhayul belaka. Namun, yang dapat dirangkum adalah rumah itu berdimensi fisik, estetik, filsafati, kulturan, dan ekonomis.

Bangunan Tradisional Jawa Menurut Feng Shui
Dalam seminar “Pengaruh Tata Letak Bangunan terhadap Keberhasilan (Hong Shui)” di Semarang 17 Desember lalu, salah satu pembicaranya adalah Mas Permadi SH, tokoh paranormal Indonesia. Dalam makalahnya tentang “Tata Letak Bangunan Berdasarkan adat Jawa”, ia mengatakan pada prinsipnya bangunan rumah tradisional Jawa dibuat sesuai dengan struktur tubuh manusia, yang dinilai paling sempurna di muka bumi ini. Ada kepala, tubuh, anggota badan lainnya.
Melalui pancaran atau getaran bangunan tersebut, batin dapat merasakan adanya sifat-sifat getaran tersebut. Hal ini terjadi, tatkala memasuki rumah atau melihat sebuah bangunan. Yakni, adanya interaksi antara manusia dengan bangunan tersebut yang kemudian diterjemahkan ke mata batin sebagai rasa. Ada bangunan yang terasa sejuk, amat ramah dan penuh kedamaian. Sebaliknya, ada pula getaran yang kontra dengan kita, seperti rasa singup, seram dan panas, sehingga membuat orang tidak tertarik, meski baru pertama memasukinya.
Denah bangunan tradisional Jawa yang menyerupai tubuh manusia, unsure kepala identik dengan pendopo, tubuh identik dengan pakaian, sentong, dan lainnya. Sedangkan kamar mandi dan WC, letaknya selau di belakang. Juga dapur dan gudang. Namun, struktur bangunan Jawa berbentuk Joglo mengandung makna: penghuninya selalu taat dan menyembah tuhan Yang Maha Esa.
Sekarang bila dikaitkan dengan bangunan Jawa tradisional lewat kaca mata ilmu Feng Shui, yang biasanya menghitung bangunan tradisional Cina, penulis berpendapat antara bangunan Jawa dan Cina terdapat banyak persamaan dalam globalisasi bangunan, baik posisi maupun fungsinya. Karena, pada bangunan Cina kuno yang dihitung berdasarkan Feng Shui, juga dijumpai pendopo (ruang tamu) sebagai rumah depan. Di belakangnya (ruang tengah) ada ruang terbuka, biasanya sayap kanan dan kirinya ada teras jalan yang menghubungkan dengan ruang belakang. Di rumah bagian tengah inilah, ibarat tubuh manusia, dimana aktivitas kehidupan dijalankan. Ada kamar, ruang belajar, dan lainnya. Pada bagian tengah adalah taman, dapur, gudang, kamar mandi/WC, yang terletak di bagian sayap kanan dan kiri bagian belakang.
Bila dikaitkan dengan keyakinan holistic, juga mempunyai kesamaan. Dengan adanya kepercayaan selamatan atau syukuran waktu awal pembangunan, waktu pemasangan kuda-kuda atau Tiong Cit sampai saat pindahan. Jadi tujuannya sama, yaitu mohon diberi selamat dan berkah agar murah sandang dan pangan.
Berdasarkan pengamatan penulis terhadap bangunan tradisional Jawa dan Cina, perbedaannya hanya pada struktur tanahnya saja. Tapi, definisi dan argumentasi tentang tanah tak jauh berbeda. Pada bangunan Jawa tradisional, terutama Solo dan Yogya, selalu membangun pada tanah dengan posisi yang sentongnya (pusat bangunan) adalah yang paling tinggi di antara lainnya. Mungkin karena memiliki makna:”Duduk di atas gunung memandang lautan luas, bila badai datang penghuni masih bisa berlindung di balik gunung”. Ini dapat diartikan bahwa penghuni bangunan sangat berhati-hati dan waspada, juga selalu memikirkan anak keturunannya agar kelak masih bisa menikmati kejayaannya.
Sedangkan pada ilmu Feng Shui ada pepatah:”Duduk bersandar pada gunung untuk melihat lautan luas”. Ini sebagai visualisasi tanah di bagian belakang harus lebih tinggi dari yang di depan, sehingga pandangan akan lebih luas dan lapang melihat ke jalanan bagian depan rumahnya. Tetapi pepatah di atas sering disalah artikan dan diterjemahkan apa adanya. Akibatnya, sering salah dalam mengartikan pepatah tersebut. Padahal, pepatah di atas mestinya diartikan : “penghuni berharap bisa kokoh bertahan menjaga kejayaan yang didapat”.
Dari perbedaan struktur tanah di atas, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa baik bangunan tradisional Jawa atau pun Cina, menurut kaca mata Feng Shui adalah sama. Perbedaannya hanya terletak pada pakem yang dikaitkan dengan keyakinan holistic saja. Dan bila ditarik lebih jauh lagi ke belakang, terdapat adanya kesamaan pada nara sumber kepercayaan yang bersifat universal.

Ramuan Konsep Budaya Jawa dan Moderen
Di dalam Perumahan-perumahan modern pagar sudah ditiadakan contoh di Grand Marina, BSD , dan masih banyak lagi , berdiri dengan megah di kanan kiri jalan. Interior ruangan tertata apik dan terasa nyaman, hingga membuat penghuninya betah tinggal di rumah.”Rumah di kawasan ini merupakan perpaduan antara konsepsi budaya Jawa dan modern,”kata Salim SL Lee, Konsultan Perumahan Grand Marina. Dengan demikian, semua penghuni dapat melihat laut pada pagi hari tatkala hendak pergi ke kantor mereka pulang ke rumah masing-masing.
Konsep budaya Jawa itu tampak pada bentuk rumah dan lingkungan kawasan tempat berdiri rumah-rumah yang bakal dibangun di perumahan ini. Ketinggian rumah dari jalan 2,5 meter dan tinggi jalan-jalan lingkungan 3 meter di atas air pasang maksimal, sehingga tak bakal kebanjiran. Ini tak berbeda dengan rumah adat Jawa di tepi pantai pada umumnya rumah panggung agar tidak kebanjiran jika air laut pasang. Apalagi drainase dibuat lebar dengan ukuran 50 cm.
Sedangkan unsure moderen, tampak pada gaya arsitektur rumah dan bahan bangunan yang digunakan.
Lingkungan rumah yang serasi dengan alam, menurut Permadi SH, tokoh paranormal Indonesia, memang merupakan konsep budaya Jawa. Sebab, “Menurut konsep budaya Jawa, dalam membangun rumah seyogyanya diserasikan dengan alam”, katanya. Lokasi bangunan rumah harus diselaraskan dengan semua benda yang sifatnya alamiah seperti arah mata angin dan matahari.
Di sekitar rumah yang dihuni harus ditanami berbagai jenis pepohonan, sehingga bangunan itu Nampak menyatu dengan alam. Tentu, tidak sembarang tanaman. “Tanaman yang dapat menimbulkan akibat negative pada penghuni rumah harus dihindarkan,”kata Permadi. Ia menolak menyebutkan jenis tanaman, karena khawatir akan merugikan penjual tanaman.
Sebaliknya, penghuni rumah diwajibkan untuk menanam bunga-bunga yang mendinginkan suasana dan menyebarkan keharuman seperti bunga mawar dan melati.
Di samping itu, juga dianjurkan menanam pohon-pohon yang dapat menangkal perbuatan jahat, misalnya “santet”. Pohon-pohon penolak bala itu, diantaranya “tebu wulung”,”pring (bamboo) kuning, dan “kelapa hijau”.
Bahkan, kalau rumah untuk orang-orang penting, misalnya raja dan pangeran, unsur-unsur yang terdapat dalam rumah itu lebih njlimet lagi. Bahan bangunannya benar-benar pilihan. Contohnya, kayu jati, harus diambil dari hutan tertentu. Pohon yang ditanam di sekitar istana adalah pohon langka, antara lain sawo kecik dan lainnya.

SISTIM DAPUR MENURUT FENG SUI

Dapur merupakan sarana penting dan memiliki pengaruh  besar terhadap kesejahteraan penghuni rumah. dalam komposisi Feng Shui , dapur dapat memberi pengaruh kebaikan, sehingga nilai keberuntungan dan kebahagiaan yang melimpah tercurah kepada penghuni. sebaliknya, penerapan aturan Feng Shui yang kurang pas akan mempengaruhi factor kebahagiaan dan berkurangnya keberuntungan.
Menurut ilmu Feng Shui, sebuah rumah tinggal (kecuali bangunan kantor di toko) wajib memiliki ruang dapur. Sebab, dapur diibaratkan sebagai perut manusia yang mengolah sari makanan dan meyimpannya untuk kebutuhan hidup penghuninya. sebuah rumah yang tidak memiliki dapur, seperti tubuh yang tidak memiliki lambung/perut, maka kehidupan pun tidak bisa berlangsung lama. Sedangkan untuk kantor dan toko, ruang dapur dan  pelengkapnya tidak terlalu dibutuhkan, sebab fungsi bangunan yang dimaksud hanya untuk usaha.
Dalam ilmu Feng Shui, dapur adalah satu dari tiga hal penting sesudah pintu utama dan kamar tidur. Oleh sebab itu ketiga hal tersebut wajib ditata dalam komposisi yang benar dan letaknya harus tepat. apabila salah satu factor di atas berada dalam komposisi yang salah akan menyebabkan keseimbangan kehidupan terganggu. untuk tata Feng Shui yang benar, masing-masing obyek tersebut akan memberi nilai keberuntungan yang dikaitkan dengan factor kemakmuran dan kebahagiaan seperti berikut:
1.      Posisi pintu utama dalam Feng Shui diibaratkan sebagai mulut yang dapat menarik hawa rezeki kehidupan.
2.      Letak kamar tidur sebagai ruang untuk menciptakan keharmonisan, ketenteraman dan kebahagiaan hidup berkeluarga.
3.      Dapur sebagai media yang memberikan nilai kesejahteraan, kemakmuran, keharmonisan, dan kesehatan yang baik.

Sedemikian pentingnya fungsi dapur dalam kacamata ilmu Feng Shui dan kehidupan budaya masyarakat Tiongkok kuno sehingga terdapat mitologi tentang Dewa Dapur/Zhou Jun (dalam dialek Hokkian disebut Chou Kun Kong). Dewa Dapur adalah sebagai malaikat pengawas dari Tuhan Khalik Semesta Alam untuk mencatat semua perbuatan baik dan buruk dari semua penghuni untuk kemudian dilaporkan kepada Tuhan, sehingga dapat diputuskan satu pahala atau hukuman. Cerita budaya diatas mengandung filosofis multi dimensi agar manusia takut untuk berbuat dosa, karena Tuhan memiliki malaikat yang senantiasa mengawasi seluruh perbuatan seseorang.

Lantai Dapur Harus Lebih Tinggi
Karena dapur adalah tempat bersemayam Dewa Dapur/Zhao Jun maka lantai ruang dapur perlu ditinggikan sebagai langkah penghormatan. Kebersihan dapur juga perlu dijaga dengan benar agar Dewa Dapur merasa senang sehingga sudi memberi berkah kebaikan yang melimpah pada keluarga yang menghargainya. Meninggikan lantai dapur cukup 5 sampai 10 cm dan paling baik memberi nuansa warna yang berbeda. Dengan demikian orang menjadi lebih tahu agar saat melaluinya kaki tidak terantuk.
Dalam penjabaran Feng Shui Logika, meninggikan lantai ruang dapur dari ruang lain di sekitarnya sangat dibenarkan. Sebab sampah dari sisa produk masakan yang berupa limbah cair atau padat dapat dengan mudah dibersihkan. Ruang dapur dengan lantai lebih rendah dari ruang yang lainnya akan membuat kita kesulitan membersihkan. Tempat yang rendah atau cekung akan menyimpan lebih banyak kotoran maupun kuman.

Dapur Harus Bersih dan Sirkulasi Udara Baik
Dapur pun layak dijaga kebersihannya. Sebagai ruang pengolah makanan untuk santapan, dapur paling rawan dengan berbagai kuman penyakit apabila sanitasi kebersihannya tidak dijaga dengan baik. Bila ruangan kotor maka makanan mudah terkontaminasi kuman. Bila dimakan oleh manusia, maka penyakit berat akan melanda dan keberuntungan akan berubah menjadi bencana.
Sirkulasi udara dan sinar matahari juga perlu diperhitungkan. Tempat yang kelewat lembab dan pengap akan membentuk sha qi (energy pembunuh/sarang kuman) yang mematikan. Sedangkan tempat yang memiliki sirkulasi baik, asap masakan tidak akan masuk ke dalam ruang rumah maupun kamar. Asap masakan biarpun baunya sedap tetapi bukan sebagai udara yang bersih, yang dapat menyebabkan penyakit. Itulah sebabnya timbul larangan pintu dapur berhadapan dengan pintu kamar.

Letak Dapur yang Baik
Karena dapur melambangkan bentuk perwujudan tubuh manusia, maka letaknya paling baik sedikit di bagian belakang dari batas tengah bangunan. Artinya jangan terlalu ke belakang tetapi posisinya juga tidak boleh di bagian depan rumah. Hal-hal berikut ini yang perlu Anda perhatikan:
·         Dapur di bagian depan rumah, sering mengundang banyak bencana khususnya untuk karier dan keuangan.
·         Ruang dapur terlihat dari jalan raya sering berakibat buruk terhadap hubungan keharmonisan dan kesetiaan antara suami dan istri. Selain itu sisi keuangan menjadi boros karena godaan batin juga besar.
·         Dapur paling pantang kalau letaknya di bawah kamar mandi/WC untuk bangunan bertingkat. Komposisi ini hanya akan mengundang kesialan yang panjang dalam hidup.
·         Ruang dapur juga jangan terletak di bawah kamar tidur. Biarpun kamar tidur untuk pembantu, komposisi ini juga akan mengundang banyak kesialan dan kehidupan juga tidak pernah merasa tenang.
·         Di atas ruang dapur boleh untuk jemuran atau tempat cuci, tetapi lantai atas tepat di bagian atas kompor sebaiknya jangan ada tempat penampungan air.
·         Letak dapur boleh di wilayah magnetic alam yang baik tetapi juga boleh di sudut yang jelek tergantung kondisi yang ada. Untuk lahan yang luas tidak ada salahnya dapur letaknya di wilayah yang baik. Tetapi untuk lahan yang kecil wilayah yang baik paling tepat diprioritaskan untuk kamar tidur.
·         Ruang tidur paling pantang di atas sumur atau septitank. Artinya dalam ruang dapur jangan ada sumur (biarpun permukaan sumur telah ditutup dan diberi pipa udara) dan septitank.


Berikut Beberapa hal yang perlu Anda perhatikan
·         Letak kompor jangan berhadapan dengan tempat cuci piring. Mempertemukan api dan air akan menimbulkan konflik yang keras antara suami dan istri maupun dengan penghuni yang lainnya. Tidak jarang mereka mengakhirinya dengan perceraian atau pertengkaran.
·         Kompor dan air saling berhadapan memiliki pengaruh yang buruk terhadap perilaku anak. Misalnya anak perempuan sulit menemukan jodoh dan yang lelaki memiliki sifat feminine.
·         Kompor dan tempat cuci piring jangan bersebelahan/berdampingan dalam posisi satu baris, apalagi posisi kompor letaknya lebih rendah dibanding kran air. Hal ini menyebabkan elemen api akan padam oleh kekuatan air. Komposisi ini jelas akan merusak atau memadamkan rezeki kehidupan.
·         Belakang kompor harus dinding solid. Formasi ini sebagai bentuk sandaran untuk factor kekuatan, agar kedudukan rezeki dan keharmonisan yang telah dimiliki dapat bertahan lebih lama.
·         Belakang kompor jangan jendela, hal ini dimaksudkan agar api dapat tenang dan terfokus secara lebih baik nyalanya. Dengan demikian waktu pemasakan menjadi lebih singkat dan tidak memboroskan bahan bakar. Jendela yang berada di belakang kompor dalam Feng Shui mengindikasikan sector keuangan keluarga dalam kondisi yang sangat boros.
·         Kompor sebaiknya jangan bertatapan dengan pintu. Artinya, letak kompor, khususnya pada mulut kompor, paling baik jangan berhadapan langsung dengan pintu masuk ruang dapur. Bagian samping kompor yang tertatap pintu dalam Feng Shui masih dibolehkan.
·         Letak kompor paling baik di sudut  timur dan tenggara, sebab ke dua sudut tersebut dalam rumusan “Lima Unsur/Wu Xing” memiliki elemen “kayu”. Dengan demikian kekuatan api akan hidup bila bersanding dengan sudut timur dan tenggara. Sudut selatan memiliki unsure “Api”, posisinya untuk letak kompor masih masuk kategori baik, demikian pula sudut timur laut dan barat daya yang memiliki elemen “Tanah” masih diperkenankan. Konsep tentang letak kompor ini berdasarkan rumusan “Lima Unsur” dalam konsep mata angin.
·         Letak kompor di sudut utara dinilai tidak baik, sebab elemen utara adalah “Air”. Dengan demikian api kompor akan padam dibuatnya, sedangkan posisi barat laut dan barat memiiki elemen “logam” yang cukup membatasi nyala api, posisi ini kalau tidak terpaksa jarang digunakan.
·         Saluran air sebaiknya juga jangan tepat di atas kompor, sebab elemen api akan padam bila tersiram oleh air, akibatnya akan mempengaruhi sector rezeki kehidupan.

Hubungan dapur dengan Tata Ruang lainnya
Dapur tidak lain hanya satu bagian dari elemen yang ada di dalam rumah. Sudah barang tentu keberadaan dapur dengan fungsi ruang yang lainnya akan saling berinteraksi bahkan berhubungan erat. Dalam penjabaran ilmu Feng Shui semuanya ada factor sebab yang pada akhirnya akan menimbulkan suatu dampak. Demikian pula hubungan ruang dengan ruang lainnya.








SELAMAT DATANG UNTUK ANDA SEMUA serta sekelumit tentang kami

Selamat datang anda saudara sebagai tamu  kami dalam menambah  khasanah, berbagai Tata Cara Rancang Bangun-rumah, kami dengan senang hati ingin membantu membuatkan berbagai macam desain, rancang bangun tempat tinggal, apartement, ruko, perumahan, tempat ibadah dll.
Sudah banyak  karya yang telah kami selesaikan tersebar di seluruh Indonesia dan mancanegara seperti beberapa contoh dalam  tampilan.
Anda bila berminat bisa untuk melihat kegiatan  proyek  kami, dan kami bersedia mengantar Anda  melihat langsung pekerjaan yang kami tangani.
Kami bersedia melayani dan tidak banyak komentar, yg ada hanya kerja dengan hati nurani serta membantu anda dengan, biaya semampunya .
Sebagai tujuan hidup dan ibadah kami, maka untuk Konsultasi, Desain Bangunan Sosial, tempat ibadah kami bebaskan dan gratis .
Demikian sekelumit tentang kami, semoga Selamat dan sucses buat saudara, anda dan kita semua baik Dunia dan Akherat, Amin

Untuk menghubungi kami, Anda dapat langsung call, Email atau SMS ke :
Tata Cara Rancang Bangun Konstruksi  Rumah
KARSONO, SH, AhT
Telp : 0878 3482 7878
Email : karsonsh45@gmail.com
            (yahoo) karsa09@rocketmail.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar